Bukit selong Sembalun



Bukit selong ,sembalun

   Di Gunung Rinjani, Lombok, terdapat tujuh buah bukit yang populer di kalangan pendaki. Tujuh Bukit Penyesalan namanya. Waktu belum menikah, saya pernah menjajal medannya. Lelahnya jangan ditanya. Setiap kali melangkahkan kaki di bukit tersebut, timbul rasa penyesalan di hati saya. Drama banget lah. Apalagi di pundak saya bergelayutan tas carrier segede gaban yang semakin menambah episode penyesalan saya.

   Lain dulu, lain sekarang. Kini destinasi wisata di sekitar Gunung Rinjani sudah berkembang pesat. Yang bisa kesini bukan cuma para pecinta petualangan, tapi juga keluarga dengan anak-anak.

   Untuk menemukan pemandangan menawan di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, kita tidak perlu susah-susah menyusuri 7 bukit penyesalan lagi. Alternatifnya, kita bisa membawa keluarga tersayang ke Bukit Selong.
Menuju Bukit Selong

   Bukit Selong terletak di Kecamatan Sembalun yang masih berada di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Dari rumah saya di Praya (dekat dari Bandara International Lombok), Sembalun bisa ditempuh dalam masa 2,5 jam. Sedangkan jika bertolak dari Mataram, waktu tempuhnya menjadi 3,5 jam.

   Jalan menuju Sembalun berkelok-kelok tajam dan menanjak, tapi sudah mulus beraspal. Jika ingin kesini, sebaiknya jangan memulai perjalanan di sore/malam hari. Jalanan pasti akan gelap gulita. Apalagi nanti akan ada satu titik dimana kita akan menembus hutan hujan tropis yang sangat rapat pepohonannya. Siang-siang sih kelihatan indah... tapi kalau malam kayaknya agak spooky-spooky alias horror gitu ya :D

   Sampai di kawasan Sembalun, saya langsung mencari keberadaan si Bukit Selong menggunakan aplikasi Google Maps. Jika tidak menggunakan aplikasi, kita harus pasang mata baik-baik untuk melihat papan petunjuk jalan yang berukuran kecil. Nanti kita akan diarahkan untuk masuk ke dalam jalan sempit yang hanya muat untuk satu mobil.

Bukit Selong

   Setelah menyusuri jalan kecil tersebut, jalanan di depan ternyata semakin melebar. Disana, saya langsung disambut oleh barisan pohon bambu yang sekilas mirip dengan hutan Bambu di Arashiyama, Jepang. Buat yang belum kesampaian berwisata ke Jepang, boleh lah ke Bukit Selong dulu sebagai pemanasan :D

Hutan inilah yang menjadi indikator kalau kita sudah sampai di bukit Selong. Saya pun memarkir kendaraan disana.
Di depan area parkir kendaraan, kita akan menemukan spot foto selfie kekinian. Saya dan Ucay (anak saya) ikut-ikutan ber swa-foto di area yang menyerupai rumah hobit. Siapa tau suatu saat kami bisa ke tempat aslinya yang ada di New Zealand :D

Spot foto kekinian: Rumah Hobit

Puas berfoto, saya pun bergegas
Ke loket pembayaran. Biaya untuk ke bukit Selong hanya Rp.5000 per orang. Sudah termasuk biaya parkir.

Tepat di sebelah loket terdapat rumah adat Desa Beleq (Beleq artinya besar dalam bahasa Sasak). Ada tujuh buah rumah disana yang semuanya sudah ditinggalkan penghuninya. Sayangnya, tidak banyak yang bisa dilakukan disini selain melihat-lihat arsitektur rumah dan berfoto. Seandainya terdapat informasi mengenai sejarah dan berbagai fakta menarik tentang rumah ini, tentunya kunjungan kami kesini akan lebih bermakna.

Beranjak dari rumah adat, saya langsung naik Bukit Selong. Medannya super gampang, seperti naik tangga rumah!  Saking mudahnya, anak kecil dan orang tua bisa naik sendiri tanpa bantuan.

Cukup mendaki satu menit (iyaaa… satu menit!), saya sudah sampai di atas bukit. Pemandangan sawah dan kebun yang berpetak-petak serta perbukitan yang cantik menyambut saya. Bukan cuma instagramable, tapi juga breathtaking. Bikin saya mengucap “Masha Allah” berkali-kali :)

Menoleh ke arah kiri, saya bisa melihat rumah adat desa Beleq dari sudut pandang yang lebih tinggi. Rumah adat terlihat semakin indah karena dibingkai oleh Gunung Rinjani yang puncaknya menjadi dambaan para pendaki.

Rumah Adat Desa Beleq

Jika ingin mendapatkan view yang lebih indah lagi, kita bisa mendaki bukit lain yang letaknya lebih tinggi (ada di belakang Bukit Selong). Kali ini medannya cukup curam karena belum dibuat anak tangga. Jika membawa anak kecil, harus ekstra hati-hati. Saya sendiri sempat naik kesana sambil menggendong Ucay yang berusia dua tahun. Beberapa kali saya menurunkan Ucay dan membiarkannya memanjat sendiri, tapi selalu saya awasi.
 
sumber:http://turseena.blogspot.com/2018/01/bukit-selong-sembalun-lombok-surga.html
 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata hits lombok

Gili Trawangan

Pantai kuta lombok